Lebaran Part 2 : Ngurah Rai bersama Bu Vinka
Entah kenapa harus bu guru yang satu ini yang kami pilih. Kalo diliat-liat, dirasa-rasa dan dirunut ide ini bermula dari ombetz sebagai ketua panitia tahun ini dengan tidak bosan-bosannya. Kalo mau tau alasannya, kenapa bu vinka? Silahkan menyakan langsung ke orang yang bersangkutan.
Sesuai dengan rencana panitia, kami akan berkumpul seusai sholat magrib di rumahnya saudari alfia. Tapi sodara-sodara kotaumito anak sorowako selalu datang pada waktu yang tepat alias tidak tepat waktu, datang terakhir seperti “jagoan” sinema laga di layar kaca. Lalu berkata, “Kenapa blum berangkat ko?” pasti gagah anaknya yang bilang begitu..
Akhirnya peserta berkumpul ada pank, bitox, asty, marini, ivan, irro, ichink, i5k, ithink, one, suqir, iksan, anna, ombetz, sharie kecil, nime, alfia, asmi, syufee, pipin siapa lagi le’ ada kayaknya salupa (narksis –> enable). Setelah lengkap kami segera menuju ke rumah bu Vinka. Sebagai sopir teladan saya bertanya, “Siapa yang masih ingat rumahnya bu Vinka?“, ada berbagai tanggapan dari arah belakang, “Jalan Ngurah Rai, yang pendakian itue“…. “Keliatanji itu, masih saingat-ingat jie“… “Kalo bukan nomer 9 nomor 12 mungkin itu“… “Ah nda sataumi juga salupa-lupami“…. mendengar tanggapan itu sang sopir mulai mencium bau-bau kesesatan yang nyata… kebiasaan lama always SoTak (Sok Tahu – red)
Kijang biru mulai melitasi depan SMU YPS tercinta, tikungan Ngurah Rai mulai terlihat di bahu kiri jalan. Suasana hening sejenak ketika mobil mulai merayap di tanjakan cukup parah itu sehingga mengharuskan sopir memasang gigi rendah. Ketika mulai terlihat satu rumah mulailah satu persatu suara-suara penumpang sayup terdengar, “Dekatmi…“… “Itu kayaknya bozzz yang ada mobilnya”… “Ahh..bukan itu kayaknya agak jauh-jauh sedikit ke dalam”…. “Behhh, yang mana ka?” Kesesatan yang nyata sudah mulai tampak sodara-sodara
Setelah didiskusikan sebentar akhirnya kami yakin rumahnya adalah yang nomer D09, One dan beberapa teman mulai mengetuk pintu. Teman-teman yang lain sibuk dengan kameranya berpose bak artis ta’lettu (tak sampai – red), mulai dari gaya yang fotogenik sampai fotogenit, mulai dari depan jalan raya sampai ke halaman D09 dan saya yakin seyakin-yakinnya tidak ada lagi sudut yang terlewat dari kamera itu. Klo itu kamera bisa bicara, nda taumi..menyesal mungkin jadi kamera
Sudah lama rasanya kami mengetuk pintu bergantian, tapi tak ada sosok yang muncul dari balik pintu itu, setelah berembuk kamipun segera naik ke mobil dan memutuskan untuk segera pulang, mungkin tidak berjodoh untuk hari ini.Tapi baru beberapa meter kendaraan kami beranjak dari D09 tiba-tiba ada yang bersuara dari arah belakang, ”Eh itu kayanya rumahnya bu Vinka, itu mobil suaminya..Departemen EHS to?” sebagai sopir perasaanku sudah tidak enak. masak salah rumah….D11 oh noo
Setelah memarkir mobil di depan D11, dua orang teman mulai mengetuk pintu. Dag..Digg..Duuugg…Preett…bagaimana mungkin salah? tak lama kemudian muncul sosok yang tak asing… Tedeengg… BU VINKA oiiii..suit..suit…apa maksudnya ini penulis…
Ternyata hadirin kasus salah rumah pecah juga… Sudah salah rumah, baterai kamera habis dirumahnya orang… Tapi itumi kelebihannya, tinggal pasang muka tembok semua beres.
Satu persatu kami memasuki rumah ibu guru yang satu ini. Setelah duduk manis pudink dan sirup manis mulai datang satu persatu, kemudian dilanjutkan dengan cerita panjang x lebar. Belum lama bercerita, kami mendengar ketukan pintu dari sudut ruangan. Ternyata ada tamu bu Vinka segera membukakan pintu, satu persatu mereka muncul dari balik pintu… Eh..eh..eh … Tak disangka dan diduga rupanya opa Tapo’ cs, ada mamank, helo, uphe, bothenk, rapi. Sudahmi ramenya kaya’ pasar subuh di dermaga.. pasti kacau ini
Sungguh dinamika obrolan malam itu nyaris tanpa ujung, setiap kami berkumpul selalu ada bahan yang menarik untuk didiskusikan. Entah kenapa kebersamaan kami selalu mengalami dejavu setiap tahunnya, tidak ada yang berubah. Ibu guruku yang satu ini terus mengingat-ingat masa SMU kami, walaupun kadang keliru menyebut nama dan angkatan. Tapi kami sangat maklum, karena setiap angkatan mempunyai roman dan rupa yang berbeda setiap tahunnya.
Setelah kami rasa cukup kamipun segera pamit dengan bu Vinka dan anaknya raihan dan juga anak perempuanya tapi salupa namanya, kasih nama saja beine. Diluar hujan masih cukup deras tapi kami harus cepat pulang, takut terlalu malam sampai dirumah masing-masing. Setelah selesai mengantar sampai depan rumah masing- masing ke rumah, maka selesailah tugas saya…Kemana lagi kita besok?
Bagaimana pren..siapa panitia tahun depan????





