Kebohongan Publik!!Ah masak sech???

sedikit serius Add comments

Hmmmff….Entah mengapa beberapa hari ini saya candu sekali memantau perkembangan Sorowako. Mungkin karena saya dari TK sampai SMA di sana y… Semua sumberdaya saya lakukan mulai baca email, baca sindikat berita, googling, blogwalking sampai menginstall planet aggregator di server untuk sekedar mencari informasi mengenai Sorowako terutama tentang aksi mogok kerja.

Tetapi setelah beberapa hari mengikuti sindikat berita, rasanya bagiku ada sesuatu yang janggal. Namun apakah itu???

Akhirnya pagi tadi saya mulai menemukan titik terang setelah membaca email dari seorang yang mengaku sebagai salah satu peserta aksi mogok kerja. Saya agak terlambat membaca karena email ini sempat tersesat di folder bulk. Ternyata apa yang diungkapkan sama seperti apa yang kurasakan.

Beberapa pemberitaaan dimedia massa yang sangat jauh dari keadaan yang terjadi dilapangan. Mulai jumlah peserta mogok kerja sampai keadaan asap yang membumbung tinggi di perusahaan itu. Tentunya akan sangat membuat bingung para pembaca berita. Dari media A dan media B terdapat perbedaan data yang sangat mencolok padahal berada dalam satu lapangan. Sungguh membingungkan….

Berikut petikan isi email dari saudara ***n:

“……Ada yg perlu di garis bawahi dalam aksi mogok ini adalah jumlah karyawan yg mogok, hampir semua media yg aku baca baik di internet maupun media etak mengatakan 500 karyawan, tetapi fakta yg ada di lapangan dan hasil ata yg ikut demo adalah 2.500 LEBIH karyawan. saya tidak mengeti apa wartawan yg cari informasi atau wartawan yg diberikan informasi dari bapak **n***, memberikan berita yg tidak sesuai data yg ada. dari media maya yg memberikan informasi akuratbhanya di www.metrotvnews.com. sekedar info hari kamis besok, rencana dari pihak FK. PAS juga bergabung dengan SP KEP tuk aksi besar2an……..”

Sebagai mantan jurnalis kampus yang dipecat karena boikot musang …waduh luka lama bersemi kembali, saya tertarik untuk membahas masalah ini sedikit….dikit sekali

Dalam dunia jurnalistik kita biasa mendengar istilah kebohongan publik. Secara kasar dapat diartikan sebagai salah satu bentuk kebohohongan yang sengaja dimuntahkan untuk membentuk opini yang salah pada masyarakat. Saya tidak menuduh bahwa dalam kasus ini terdapat kebohongan publik tapi saya yakin dalam kasus ini ada pelanggaran kode etik jurnalistik. Kenapa demikian??

Saya tertarik untuk menuliskan kembali kode etik jurnalistik yang harus diingat kembali oleh para jurnalis sedikit bernostalgia dengan buku putihnya. Berikut petikan point-pointnya :

 

- Jurnalis menghormati hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar.

- Jurnalis senantiasa mempertahankan prinsip-prinsip kebebasan dan keberimbangan dalam peliputan dan pemberitaan serta kritik dan komentar.

- Jurnalis memberi tempat bagi pihak yang kurang memiliki daya dan kesempatan untuk menyuarakan pendapatnya.

- Jurnalis hanya melaporkan fakta dan pendapat yang jelas sumbernya.

Pasal 16

Wartawan Indonesia menyadari sepenuhnya bahwa penataan Kode Etik Jurnalistik ini terutama berada pada hati nurani masing-masing.

 

Dari beberapa point diatas dapat diketahui bahwa attitude para jurnalis merupakan komponen yang sangat penting dalam mencetak sebuah berita. Berita yang berimbang dan bermutu pasti terlahir dari jurnalis yang memiliki attitude yang baik, demikian pula sebaliknya. Ujian terhadap iman dan idealisme akan terlihat disini. Yeah, jurnalis juga manusia, tidak terlepas dari salah dan khilaf….

Dalam beberapa tulisan berita dimedia massa terdapat beberapa pengambilan narasumber yang tidak berimbang. Kondisi dilapangan tidak sesuai dengan statement yang dilontarkan oleh salah satu pihak narasumber. Akhirnya terjadi pembiasan informasi yang cukup fatal, yang akhirnya berimbas pada tingkat kepercayaan masyarakat. Karena perlu diketahui bahwa kebohongan publik merupakan ciri lemahnya integritas dan sangat mengecewakan amanah pemberitaan kepada masyarakat luas. Tapi saya merasa ini hanya permasalahan ketidakberimbangan saja kok…

Terlepas dari itu, hendaknya keberimbangan penulisan berita pada media harus senantiasa dijaga. Jangan sampai simbiosis mutual trust yang terjalin dengan masyarakat putus hanya karena kurang jeli menjaga keberimbangan dalam peliputan.

Perlu diingat bahwa para jurnalis memiliki fungsi kontrol sosial dalam membentuk opini publik. Apapun yang ditulis oleh para wartawan di media cetak akan menjadi isu terhangat hari itu. Orang-orang akan membicarakannya dikantor, kampus, sekolah, angkringan , burjo dan berbagai tempat dibelantara dunia maya.

Teruntuk para petinggi yang mempunyai hak bicara terhadap suatu permasalahan. Hendaknya supaya lebih arif dalam memberikan jawaban. Jangan sampai melakukan kebohongan publik dalam rangka privatisasi perusahaan. Sebab jawaban dari seorang petinggi, akan menjadi kutipan penting disemua media massa. Dahulu kebohongan publik bisa dilakukan karena pihak terkait dapat memanajemen isu dengan baik dengan pertimbangan kemaslahatan. Tapi sekarang??dimana jalur informasi sudah demikian canggihnya…Susah bro…

“Mogok kerja jangan dijadikan precedent dalam setiap permasalahan karyawan“…

Apakah kebohongan publik bisa dijadikan precedent dalam menyelesaikan permasalahan mogok kerja karyawan??

TANYA KEN APA…..

 

Nb : “Shoot the Message, not the Messenger…Not AdHominem”

Smoga cepat Selesai y…

Leave a Reply

WP Theme & Icons by N.Design Studio
Entries RSS Comments RSS Log in