Hari ini saya menerima sms yang tidak biasa. Kenapa tidak biasa?? Pesan sms ini dari seorang teman nan jauh dari Sorowako sana. Isi pesannya membuat rasa sorowakoisme ikut tersulut..Seandainya saya di Sorowako…*rindu mode on*
isi pesannya sbb:
“Tmn2
Jgn lupa nanti sore jm 6 nntn trans 7, ad lptn ttng srwk.
Bsk ad unjuk rasa besar2an krywn PTI yg mau iktn nonton acrx dplan site.
Salam,
**y*”
Wahhh, unjuk rasa lagi…nenek, kakek, warga ini..warga itu…elemen ini..elemen itu..pak ini..bu itu…semua tumpah ruah di sebuah lapangan persegi dan seperti biasa tempat paporit yang dipilih al depan lapangan golf, plansite n kmaren sempat di depan ExRel. Klo saya boleh usul besok-besok aksinya di pantai ide atau kupu-kupu supaya situasi lebih rileks dan sekalian rekreasi…ini hanya usul lhoo..
Tidak terbayang unjuk rasa yang akan terjadi kali ini bakal seperti apa. Peristiwa ini juga bukan merupakan hal yang baru di daerah sorowako dan sekitarnya. Dejavu yang terjadi kali ini akan melibatan karyawan PTI. Yeah PTI, sebuah perusahaan mineral yang mengantar kami kuliah di tanah orang lain ini.
Menurut definisi kamus besar wikipedia, unjuk rasa adalah sebuah gerakan protes yang dilakukan sekumpulan orang di hadapan umum. Unjuk rasa biasanya dilakukan untuk menyatakan pendapat kelompok tersebut atau menentang kebijakan yang dilaksanakan suatu pihak.Kenapa unjuk rasa harus terjadi? Ada apa dengannya?? Mari kita mulai dari peristiwa yang telah lalu…
Jika kita runut dari peristiwa yang sama di masa yang lalu sekitar tahun 2000an, dimana melibatkan pihak warga asli Sorowako dan pihak PTI. Setelah sekian lama “rasa itu” mengendap namun tak ada koreksi. Yeah tidak ada api kalau tidak ada yang menyulut. Dikotomi selama bertahun-tahun terkait dengan berbagai fasilitas dan kesempatan kerja. Beberapa kali upaya diplomasi dengan mengirim sinyal “rasa itu” ke manajemen PTI pada saat itu tak membuat koreksi segera datang. Dengan segala keterbatasan yang dimiliki, strategi pun segera disusun. Setelah membahas isu-isu yang akan diangkat dengan matang, maka akhirnya lahirlah tanggal xx sebagai wahana penumpahan “rasa itu”.
Tak tanggung-tanggung yang ikut turun ke jalan kala itu. Mulai dari bapak ini, ibu itu, neneknya ini, om itu….semua tumpah di depan lapangan golf membentuk suatu kumpulan besar, rumah dan sawahpun ditinggalkan untuk sementara. Situasi hingar bingar dan haru biru mulai nampak. Hingar bingar nampak dari para pemuda dengan berbagai orasi dan teriakan-teriakan heroiknya, sedangkan haru biru tumpah dari golongan para ibu dan nenek terlihat dari wajah mereka yang memerah dan mengeluarkan air mata dengan lelehan efusif mengiris hati. Sungguh sangat ekspresif…
Babak penghadangan bus dan mobilpun segera dimulai. Satu persatu penumpang bus dipaksa untuk turun, mulai dari bus karyawan sampai bus anak sekolahpun ikut terkena imbas dari aksi ini. Manusia-manusia langit yang duduk di kursi manajemen PTI pada saat itu seakan jatuh ke tanah. Situasi yang aman dan damai terpaksa harus berubah seiring memuncahnya “rasa itu” yang tengah melanda warga asli. Dan perlu diketahui bahwa jalan yang diblokir warga merupakan akses utama menuju kantor PTI dan segenap fasilitas pendukungnya dan aksi ini juga bersifat rahasia. Dengan cara ini akhirnya manusia-manusia langit itu tersentuh juga, setelah beberapa lama berlindung dibalik meja.
Hasil tindakan anarkispun mulai menghiasi wajah para manusia-manusia langit. Berbagai pukulan dan caci-maki mulai keluar raga para demonstran. Situasi makin heroik karena para kaum ibu mulai meraung dan berteriak histeris karena terbawa emosi dan juga karena anak-anak kecil yang ikut bersama mereka mulai menangis tidak karuan. Lelehan darahpun mulai mengalir dibeberapa lipatan wajah petinggi-petinggi itu. Dengan intonasi underpreassure mereka melakukan pembelaan, walaupun bogem mentah tetap mendarat diwajahnya. Sungguh sangat memilukan…euforia unjuk rasa
Sungguh sebuah peristiwa yang sangat memilukan. Tetapi kalau kita bisa meneliti lebih jauh, sebenarnya tidak hanya unjuk rasa yang bisa diambil untuk menyelesaikan perbedaan pendapat. Ada beberapa hal yang menyebabkan perbedaan pendapat berindikasi untuk terus meruncing. Salah satunya adalah kurang terjalinnya komunikasi dan informasi yang baik antara stockholders dan karyawan sebagai mitra kerja PTI, sehingga timbul fitnah dan saling tuding antar dua elemen ini, padahal sebenarnya masalah itu tidak pernah ada dan berasal dari rawi yang tidak jelas.
Terlepas dari apa yang dialami dan dirasakan oleh bapak-ibu dan saudara-saudari karyawan PTI yang terhormat. Mungkin pihak terkait dapat berpikir kembali sebelum melakukan aksi unjuk rasa, jangan sampai niat baik untuk lebih maju akan terkesan kopong dan prematur. Banyak hal yang harus pikirkan dan dipertimbangkan. Apakah jika ada masalah kita harus unjuk rasa? Apakah unjuk rasa adalah solusi terbaik? Ataukah ada cara yang lebih produktif dan efisien?…tentunya ada…
Mohon kiranya stockholders dan karyawan PTI bisa lebih bersabar dan rajin instropeksi. Apakah stockholders sudah memberikan harga yang pas untuk karyawan? dan Apakah para karyawan sudah memberikan kinerja yang terbaik terhadap perusahaan? Sebagai manusia yang baik, kita senatiansa harus berpikiran positif dan sabar. Sabar bukan berarti sebuah tindakan pasif tanpa hasil, daripada terus berpikiran negatif yang membuat flek hitam dihati. Masalah tidak selesai, sakit kepala dan hati iya….
Setelah hati bersih dari flek hitam, pihak terkait mungkin bisa mengoptimalkan kembali fungsi forum ilmiah dalam hal ini SPSI. Haaa…SPSI…biasanya ada yg elergi…positive thinking my pren...Tumpahkan semua di forum ilmiah itu, tidak ada yang patut dipendam sendiri. Dalam forum ilmiah semua memiliki hak yang sama, jangan sampai para stackholders menciptakan public decency bahwa hanya mereka yang berhak “megang”, pemikiran yang demikian itu sudah sangat klasik dan kuno. Intinya adalah berpikir positif sangatlah penting dan terbukti membersihkan hati..Bukannya saya membenci unjuk rasa, tapi mungkin alangkah baiknya kita bisa menggantikannya dengan aksi yang lebih produktif, efisien dan efektif…
Posisi stackholders juga diisi oleh manusia yang harus diberi kesempatan, jangan langsung menuduh tanpa bukti. Manusia punya hati dan nurani baik namun kadang membelot. Pada zaman nabi musa, Allah SWT memerintahkan nabi musa untuk menasehati Fir’aun. Padahal seperti kita ketahui bahwa Fir’aun adalah seorang raja tedzalim dan terbejat sampai akhir zaman nanti….
Fir’aun aja dikasih kesempatan….Apakah ada manusia yang lebih bejat dari Fir’aun yang tidak pantas lagi diberi kesempatan??….
TANYA KEN APA????
Nb : Ini hanya sebuah tulisan yang tidak penting dari orang yang tidak penting..”But Shoot the message, not the messengger”….
BTW, kalo ada info2 baru..kasih kabar ya…

Recent Comments